Sore itu…
“Tinggal dimana pak?” Sambil terus kuisap rokokku.
“Dekat sini de, dipinggir rel situ”
“Sendiri?”
“Iyah, istri sama anak dikampung, repot kalau dibawa kesini semuah” Sambil tangannya sibuk ngesol sepatuku.
“Sehari bisa dapet berapa pak?” Aku penasaran.
“Kalo lagi rame mah bisa dapet sampe tiga puluh ribu, tapi kalo sepi yah paling - paling cuma lima ribu de…” Wajah tuanya seakan hendak bercerita tentang hidupnya.
Setelah kubayar dia, –plus sebungkus rokok yang baru saja kubeli diwarung dekat rumah, aku langsung pulang, hari sudah gelap.
Perjuangan yang hebat. Berkelana tiap hari dibawah terik demi melunasi spp anak - anaknya dikampung.
Sementara berita di koran pagi ini ramai membahas para wakil rakyat yang menuntut kenaikan gaji. Ironis? Belum tentu. Mungkin saja memang mereka hidup dalam dimensi yang benar - benar berbeda, jadi meskipun diutak - atik sedemikian rupa, tetap saja ngga akan ketemu.
Terus berjuang pak, kapitalis - kapitalis itu nggak akan pernah bisa eksis kalau ngga ada orang - orang seperti bapak.
*sepatunya masih awet pak sampe sekarang…*

:)
lam kenal mbel. met gabung dg blogfam. acc membernya sdh diaktifkan. ditunggu sapa nya di perkenalan.
Comment by sa — October 28, 2005 @ 9:59 pm